Kamis, 07 Februari 2013

bab 2


2.1  Tinjauan tentang Strategi Komunikasi

Secara harfiah strategi adalah “seni umum” yang berasal dari kata Yunani yaitu strategos. Kata strategos bermakna sebagai (Liliweri, 2011: 240):
  1. Keputusan untuk melakukan suatu tindakan dalam jangka panjang dengan segala akibatnya.
  2. Penentuan tingkat kerentanan posisi kita dengan para pesaing (ilmu perang dan bisnis).
  3. Pemanfaatan sumber daya dan penyebaran informasi yang relatif terbatas terhadap kemungkinan penyadapan informasi oleh para pesaing.
  4. Penggunaan fasilitas komunikasi untuk penyebaran informasi yang menguntungkan berdasarkan analisis geografis dan topografis.
  5. Penentuan titik-titik kesamaan dan perbedaan penggunaan sumber daya dalam pasar informasi.

Pada hakikatnya, strategi adalah suatu perencanaan (planning) dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan mampu menunjukkan taktik operasionalnya (Effendy, 2006: 32). Dalam merumuskan komunikasi untuk mencapai respons yang diinginkan akan memerlukan penyelesaian tiga masalah: apa yang harus dikatakan (strategi pesan), bagaimana mengatakannya (strategi kreatif) dan sumber pesan atau siapa yang harus mengatakannya (Kotler, 2009: 180).

Strategi komunikasi merupakan paduan perencanaan komunikasi (communication planning) dengan manajemen komunikasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Liliweri (2011: 240), strategi komunikasi itu:
  1. Strategi yang mengartikulasikan, menjelaskan dan mempromosikan suatu visi komunikasi dan satuan tujuan komunikasi dalam rumusan yang baik.
  2. Strategi untuk menciptakan komunikasi yang konsisten, komunikasi yang dilakukan berdasarkan satu pilihan (keputusan) dari beberapa opsi komunikasi.
  3. Strategi berbeda dengan taktik, strategi komunikasi menjelaskan tahapan konkret dalam rangkaian aktivitas komunikasi yang berbasis pada satuan teknik bagi pengimplementasian tujuan komunikasi. Adapun taktik adalah satu pilihan tindakan komunikasi tertentu berdasarkan strategi yang telah ditetapkan sebelumnya.
  4. Adalah tujuan akhir komunikasi, strategi berperan memfasilitasi perubahan perilaku untuk mencapai tujuan komunikasi manajemen.

Strategi komunikasi harus mampu menunjukkan bagaimana operasionalnya secara praktis dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan bisa berbeda sewaktu-waktu bergantung pada situasi dan kondisi. Secara sederhana strategi komunikasi mencakup tentang posisi siapa yang bertindak sebagai komunikator, artinya disini menjelaskan sejauh mana otoritas yang dapat digunakan saat melakukan komunikasi, selanjutnya maksud dari pesan yang disampaikan oleh komunikator haruslah spesifik dan jelas agar tidak terlalu melebar pada saat pelaksanaan sehingga tepat sasaran pada komunikan.

Selain komunikator, perlu diperhatikan pula bagaimana pesan akan disampaikan, dengan menimbang kelebihan dan kekurangan dari cara penyampaian pesan dan maksud yang akan kita capai maka kita harus menimbang pesan disampaikan melalui media yang seperti apa dan dalam rentang waktu berapa lama. Terakhir adalah pentingnya pengetahuan bagaimana mengukur dampak yang ditimbulkan dari pesan tersebut, berkaitan dengan tujuan kita yang menghasilkan feedback dari komunikan.

Dalam penelitian ini strategi komunikasi didefinisikan sebagai sebuah perencanaan komunikasi (terdapat unsur-unsur komunikasi) yang disusun dalam kegiatan promosi –pada penelitian ini promosi budaya dan pariwisata Lampung–. Membahas upaya-upaya yang dilakukan dengan pendekatan komunikasi yang berlandasakan teori komunikasi.

2.2.1        Fungsi dan Tujuan Strategi Komunikasi

Strategi komunikasi berfungsi sebagai pematangan rencana agar komunikasi yang dilakukan menjadi efektif. Sedangkan tujuannya ialah untuk (Liliweri, 2011: 248):
1.      Memberitahu (Announcing)
Strategi bertujuan untuk memberitahukan informasi inti dari pesan yang ingin disampaikan guna menarik perhatian sasaran, yang nantinya akan memunculkan informasi-informasi pendukung lainnya ke permukaan.

2.      Memotivasi (Motivating)
Seseorang melakukan tindakan dimulai dari motivasi yang ia ciptakan, maka dari itu strategi bertujuan untuk memotivasi seseorang agar melakukan hal berkaitan dengan tujuan atau isi pesan yang hendak disampaikan.
3.      Mendidik (Educating)
Lebih dari sekedar memberitahu, strategi bertujuan untuk mendidik melalui pesan yang disampaikan sehingga masyarakat dapat menilai baik buruk atau perlu tidaknya menerima pesan yang kita sampaikan.
4.      Menyebarkan Informasi (Informing)
Untuk mengefektifkan komunikasi, strategi bertujuan untuk menyebarkan informasi secara spesifik sesuai dengan sasaran atau target komunikan yang telah ditentukan.
5.      Mendukung Pembuatan Keputusan (Supporting Decision Making)
Strategi disini bertujuan untuk membuat seseorang berani mengambil keputusan dari rangkaian penyampaian informasi yang didapatnya.

Strategi komunikasi dianggap berhasil apabila terlaksana sesuai dengan perencanaan dan tujuan yang diinginkan oleh komunikator telah tercapai.

2.2.2    Esensi Strategi Komunikasi

Dalam menyampaikan pesan kepada komunikan yang tergolong kompleks, penting untuk menetapkan strategi yang akan digunakan agar komunikasi menjadi efektif. Terdapat tiga esensi utama dari praktik strategi komunikasi yang dikemukakan Liliweri (2011: 249), yaitu:
1.      Strategi Implementasi
Tahapan dalam strategi implementasi, antara lain:
a.       Mengidentifikasi visi dan misi. Visi merupakan cita-cita ideal jangka panjang yang dapat dicapai oleh komunikasi dengan mengandung tujuan, harapan dan cita-cita ideal yang selanjutnya dijabarkan oleh misi. Visi bagi organisasi mempunyai makna sebagai [1] a) pemberi nilai tambah bagi kehidupan organisasi baik secara individu, kelompok, maupun secara keseluruhan organisasi, b) membangun komitmen diantara angkatan kerja organisasi untuk bergerak maju menuju masa depan yang lebih baik, c) mengatasi ketakutan akan kegagalan usaha yang mengarah pada kemajuan dan kebaikan masa depan, d) menantang setiap kemapanan dan status quo yang merugikan kelangsunagn hidup organisasi. Misi adalah suatu pengaturan komprehensif dan singkat mengenai tujuan suatu organisasi, program ataupun sub program.
b.      Menentukan program dan kegiatan. Melaksanakan serangkaian aktivitas sesuai dengan penjabaran misi.
c.       Menentukan tujuan. Dari setiap program yang akan dijalankan biasanya mempunyai tujuan yang akan diperoleh sebagai salah satu indikator keberhasilan.
d.      Mengenali Audiens. Pada tahap ini, komunikator perlu mengenali terlebih dahulu sasaran komunikasi yang disesuaikan dengan tujuan komunikasi, apakah bersifat informatif (memberikan informasi saja), persuasif (mengajak) dan instruktif (memberikan perintah). Dalam pengenalan sasaran, komunikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)      Pesan yang akan disampaikan disesuaikan dengan pengalaman, pendidikan, status sosial, pola hidup, ideologi dan keinginan sasaran.
2)      Situasi dan kondisi di sekeliling sasaran pada saat pesan akan disampaikan dapat mempengaruhi penerimaan pesan, misalnya suasana sedih, sakit dan situasi lingkungan yang tidak mendukung.
e.       Mengembangkan Pesan. Setelah mengenal komunikan, maka perlu untuk mengemas pesan secara tepat, benar dan menarik minat sasaran. Perlu dilakukan pengkajian tujuan pesan. Namun sebelumnya harus dipahami dulu isi pesan yang cocok untuk disampaikan. Satu pesan dapat menggunakan lebih dari satu teknik komunikasi, atau menggunakan satu atau beberapa lambang (misalnya: bahasa, gambar, warna, gerak tubuh, suara, dsb). Pemilihan bahasa atau lambang harus disesuaikan dengan komunikan untuk menghindari bias makna, seperti penggunaan bahasa asing maupun kalimat konotatif dan ambiguitas.
f.       Identifikasi Komunikator. Kredibilitas komunikator yaitu kemampuan komunikator dalam menumbuhkan kepercayaan komunikan terhadap pesan. Kepercayaan ini timbul antara lain karena profesi, kedudukan dan keahlian yang dimiliki komunikator. Kriteria komunikator berkredibilitas yaitu yang memiliki daya nalar tinggi dan memiliki karakter serta moral yang baik. Karena komunikator dengan karakter dan kepribaidian yang kuat dapat menyampaikan pesan dengan makna yang kuat pula.
g.      Mekanisme Komunikasi/Media. Pemilihan media sangat bergantung pada tujuan yang akan dicapai, bentuk pesan yang akan disampaikan dan teknik komunikasi yang akan dipakai. Media ada banyak jenisnya, kita dapat menyesuaikan pesan yang akan disampaikan dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangan pada tiap-tiap media. Maka dari itu, tidak menutup kemungkinan apabila dalam menyampaikan sebuah pesan, media yang digunakan lebih dari satu.
h.      Scan Konteks dan Persaingan. Perlu adanya perhitungan mengenai resiko dari setiap strategi yang telah ditentukan agar dapat diantisipasi dengan menyediakan solusi dari setiap permasalahan yang diduga akan timbul di depannya.

2.      Strategi Dukungan

Tahapan dalam strategi dukungan antara lain:
a.       Mengembangkan mitra yang bernilai;
b.      Melatih para pembawa atau penyebar pesan;
c.       Mengembangkan semacam tata aturan bagi kegiatan penyebarluasan informasi kepada audiens;
d.      Mengontrol setiap tahapan/jenis kegiatan.
3.      Strategi Integrasi
Tahapan dalam strategi integrasi antara lain:
a.       Mengintegrasikan komunikasi terutama pada level kepemimpinan.
b.      Melengkapi sumber daya.
c.       Mengintegrasikan komunikasi melalui organisasi.
d.      Melibatkan staf pada semua level untuk memberikan dukungan dan integrasi.

2.2.3    Strategi Komunikasi Efektif

Strategi komunikasi yang efektif adalah saat tujuan dari komunikasi tercapai. Untuk mencapai komunikasi yang efektif maka perlu diperhatikan hal-hal berikut (Liliweri, 2011: 256):
1.      Inovasi yang adaptif (adaptive inovasion). Inovasi dilakukan untuk meningkatkan kualitas komunikasi dengan melakukan suatu perubahan.
2.      Kesatuan suara (one voice). Seluruh kerabat kerja melaksanakan kegiatan dengan satu suara atau satu komando.
3.      Sesuaikan waktu (showtime). Semua komunikasi digambarkan berada tepat di atas pentas.
4.      Strategi mempercepat (strategic speed). Berkaitan dengan cara kerja yang cepat dan cerdas.
5.      Disiplin berdialog. Pengawasan terhadap ucapan dan presentasi dalam sebuah kegiatan komunikasi.

2.3 Tinjauan Tentang Promosi

Promosi adalah salah satu unsur dalam keseluruhan kegiatan pemasaran. Menurut Swastha dan Irawan (2003: 37) promosi adalah arus informasi dan persuasi suatu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran. Untuk menunjang kegiatan promosi tersebut diperlukan kegiatan pelaksanaan promosi. Bauran promosi merupakan gabungan dari berbagai jenis promosi yang ada untuk suatu produk yang sama agar hasil dari kegiatan promosi yang dilakukan dapat memberikan hasil yang maksimal.

2.3.1  Tujuan Promosi

Promosi sebagai salah satu bauran pemasaran (marketing mix) memiliki sejumlah tujuan yang dapat dijabarkan sebagai berikut[2]:
a.       Menyediakan informasi
Pemberian informasi terkait produk/jasa yang memberi pengetahuan bagi khalayak dan pengenalan akan produk/jasa tersebut.
b.      Merangsang permintaan
Dengan mengetahui keunggulan produk/jasa yang diinformasikan maka akan timbul rangsangan untuk membeli atau menggukan produk/jasa.
c.       Membedakan produk/jasa
Untuk menciptakan image yang berbeda dengan produk/jasa serupa dengan mengedepankan karakteristik produk/jasa yang ditawarkan.
d.      Mengingatkan kembali
Untuk mempertahankan perhatian dan minat khalayak yang telah membeli atau menggunakan produk/jasa agar tidak berpaling kepada pesaing.
e.       Menghadang pesaing
Untuk menghadang upaya pemasaran dari pesaing dengan merancang upaya proporsional guna ‘melawan’ kampanye pesaing.
f.       Menjawab berita negatif
Untuk meluruskan pemberitaan negatif terkait produk/jasa agar image yang sudah ada tidak rusak.
g.      Memuluskan fluktuasi-fluktuasi permintaan
Meningkatkan minat khalayak untuk tetap loyal kepada produk/jasa yang kita tawarkan.
h.      Membujuk para pengambil keputusan
Pihak-pihak yang sering bekerja sama dengan media promosi akan dapat melihat produk/jasa yang kita miliki karena mendapatkan pengaruh dari media tersebut hiingga akhirnya menimbulkan permintaan.






2.3.2        Macam Media Promosi

Terdapat dua macam media promosi yang biasa dilakukan dalam melakukan kegiatan promosi, diantaranya:
1.      Media promosi berbasis cetak
Maksud dari media promosi berbasis cetak adalah media promosi yang dilakukan atau dibuat dengan menggunakan bantuan jasa percetakan dalam pembuatannya. Adapun jenis media promosi berbasis cetak adalah: brosur, catalog, selebaran/flyer, pamphlet, poster, billboard, megatron, baliho, banner.
2.      Media promosi berbasis elektronik atau digital
Seiring dengan perkembangan teknologi yang ada dan lebih modern sehingga menjadikan media-media promosipun lebih berkembang hingga merambah ke media elektronik dan digital. Media promosi ini biasanya digunakan untuk promosi dengan sasaran khalayak yang luas.

Selain dengan menggunakan media-media yang tercantum di atas, promosi juga dilakukan dengan beragam cara penyebaran dan penyampaiannya seperti halnya promosi secara langsung. Apabila pemahaman akan pemilihan media promosi masih dirasakan belum maksimal maka sebelum melakukan promosi sebaiknya dilakukan perencanaan matang yang mencakup bauran promosi sebagai berikut [3]:
1.      Iklan seperti pada iklan koran, majalah, radio, katalog, poster.
2.      Publisitas positif maksimal dari pihak-pihak luar.
3.      Promosi dari mulut ke mulut dengan memaksimalkan hal-hal positif.
4.      Promosi penjualan dengan ikut pameran dan membagikan sampel.
5.      Public relations/PR yang mengupayakan produk diterima masyarakat.
6.      Personal selling/penjualan personil yang dilakukan tatap muka langsung.

Tujuan utama dari promosi adalah menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk serta mengingatkan pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran pemasarannya[4]. Tujuan promosi budaya dan pariwisata yang dimaksud pada penelitian ini adalah kegiatan untuk menginformasikan hal-hal terkait budaya dan pariwisata Lampung yang dianggap perlu untuk dapat membujuk serta mengingatkan masyarakat pada kelebihan-kelebihan budaya dan pariwisata Lampung sehingga yang bersangkutan memiliki ketertarikan akan budaya dan pariwisata Lampung dan keinginan untuk datang berkunjung.

Kegiatan promosi harus dilakukan melalui media komunikasi yang efektif, sebab masyarakat yang menjadi sasaran promosi budaya dan pariwisata adalah sekumpulan orang yang bersifat kompleks karena tersebar di banyak tempat dengan latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda satu dengan lainnya, sehingga mereka mempunyai pandangan dan keinginan atau kebutuhan yang berbeda pula akan budaya dan pariwisata.

2.4 Tinjauan Tentang Budaya Lampung

Kebudayaan secara umum dapat diartikan sebagai ways of life, cara hidup atau pandangan hidup yang meliputi cara berpikir, berencana dan bertindak, serta segala hasil karya manusia yang dianggap berguna (Syani, 2005: 149). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya adalah pikiran atau akal budi. Mengenai kebudayaan merupakan sejumlah sikap, keyakinan dan perasaan pada hal tertentu yang mendasari, mengarahkan dan memberi arti pada tingkah laku dan proses. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk di dalamnya terdapat sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni.

Dengan luas wilayah 3.528.835 Ha Lampung terbagi menjadi 14 kabupaten/kota serta 162 kecamatan dan 2.133 desa, dengan beragam kebudayaan dan potensi pariwisata. Provinsi Lampung memiliki kekayaan dan sumber daya wisata yang beragam, yang meliputi wisata alam, wisata budaya dan wisata sumber daya buatan. Potensi produk wisata provinsi lampung tersebar di 14 kabupaten yang berada di provinsi ini dengan berbagai macam keunikan dan ciri khas sendiri sehingga membuat Provinsi Lampung mempunyai keunggulan dan peluang yang sangat tinggi untuk memajukan aset-aset pariwisatanya (Disbudpar, 2009: 1).


Masyarakat adat Lampung berdasarkan lokasi kediamannya dapat dibedakan menjadi dua, yakni masyarakat Lampung peminggir (Sebatin) dan masyarakat Lampung pedalaman (Pepadun). Pada tahun 1928, Pemerintah Hindia Belanda mengatur kembali struktur persekutuan hukum adat yang berbentuk marga, melalui marga Regering Voor de Lampungche Districten, sehingga di Lampung terdapat sebanyak 83 marga, 78 marga diantaranya merupakan marga mayoritas berpenduduk Lampung asli[5].

Lampung memiliki kebudayaan yang beragam, hal ini didukung dengan terdapatnya peninggalan sejarah dan purbakala yang bisa kita ketahui dengan mendatangi museum daerah. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai budaya masih tergolong rendah, terlebih dengan masuknya pengaruh budaya asing yang seakan kian mengikis kebudayaan asli warisan nenek moyang. Hal ini terlihat dari masyarakat Lampung di daerah perkotaan yang sudah jarang menggunakan bahasa Lampung dalam percakapan sehari-hari mereka. Akan tetapi mayoritas masyarakat Lampung masih memegang falsafah hidup masyarakat Lampung asli yaitu “piil pesenggiri” yang meliputi berjuluk beaduk, nemui nyimah, nengah nyapur dan sakai sembayan. Maksud dari piil pesenggiri yaitu rasa malu apabila tidak berbuat yang baik bagi tanah Lampung.


Pada tahun 2009 jumlah organisasi kesenian yang dibina di Provinsi Lampung tercatat 741 cabang organisasi kesenian yang bersifat seni tradisional dan kreasi baru yang tersebar di berbagai wilayah. Cabang organisasi seni tersebut meliputi seni tari 147 organisasi, seni musik 87 organisasi, seni teater 15 organisasi dan seni rupa 30 organisasi.

Hingga saat ini di Provinsi Lampung terdata 4.800 benda cagar budaya yang dimiliki masyarakat dan 93 lokasi/komplek situs kepurbakalaan yang tersebar di berbagai daerah. Situs kepurbakalaan terdiri dari peninggalan zaman pra sejarah, klasik, Islam, kolonial dan kemerdekaan. Situs kepurbakalaan zaman pra sejarah antara lain Taman Purbakala Pugungharjo di Lampung Timur, Situs Batu Bedil di Tanggamus dan Situs Kebon Tebu di Lampung Barat berupa menhir dan dolmen[6]. Situs kepurbakalaan Islam berupa kuburan kuno di Bentengsari Lampung Timur dan makam Islam di Wonosobo Tanggamus.

Sedangkan situs kesejarahan antara lain makam pahlawan nasional Raden Inten II di Lampung Selatan. Museum Ruwa Jurai pada tahun 2008 tercatat sebanyak 4.600 koleksi yang berasal dari berbagai jenis koleksi bernilai sejarah, budaya dan ilmu pengetahuan. Jumlah warga yang berkunjung pada tahun 2008 sebanyak 12.000 orang terdiri dari wisatawan domestik dan mancanegara (Renstra, 2009: 11).


2.5 Tinjauan Tentang Pariwisata Lampung
Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata. Menurut Organisasi Pariwisata Dunia, seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 kilometer (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi.

Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah. Sedangkan kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha[7].

Ada 4 (empat) ktriteria suatu perjalanan dapat disebut sebagai perjalanan pariwisata, yaitu:
1.      Perjalanan itu tujuannya semata-mata untuk bersenang-senang;
2.      Perjalanan itu harus dilakukan dari suatu tempat (domisilinya) ke tempat lain (bukan domisilinya);

3.      Perjalanan itu dilakukan minimal 24 jam;
4.     Perjalanan tidak dikaitkan dengan mencari nafkah di tempat yang dikunjungi dan orang yang melakukan perjalanan semata-mata sebagai konsumen di tempat yang dikunjunginya.

Pada tahun 2009, jumlah objek pariwisata di Lampung tercatat sebanyak 275 objek wisata. Terdiri dari objek wisata alam, 221 objek wisata buatan dan 54 objek wisata budaya yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung[8]. Objek wisata yang menjadi Kawasan Wisata Unggulan Lampung yaitu Gugusan Gunung Krakatau yang memang sudah dikenal oleh banyak negara karena tragedi letusannya semasa penjajahan dahulu, Objek Wisata Way Kambas yaitu tempat konservasi dan pelatihan gajah, Menara Siger yang merupakan salah satu icon Lampung berada tepat di Lampung Selatan yang merupakan gerbang utama Pulau Sumatera sehingga tingkat kepadatan lalu lintas pembangunan yang tinggi serta kemauan politik (political will) dijadikan Pemda sebagai salah satu sektor unggulan.

Selanjutnya terdapat Ekowisata Teluk Kiluan yang menyajikan pemandangan laut berhiaskan tarian lumba-lumba, Kawasan Wisata Bahari Tanjung Setia yang menjadi salah satu surganya peselancar karena gulungan ombaknya dan berbagai objek wisata lainnya. Bukit Barisan Selatan merupakan hutan tropis yang asli dan masih asri, terakhir yaitu wisata Kota Bandar Lampung dengan segala kekhasan Lampung di dalamnya.
Segala keunggulan alam yang dimiliki Lampung tidak akan maksimal tanpa adanya dukungan sarana dan prasarana, transportasi, air bersih, listrik, komunikasi) yang memadai. Hingga saat ini infrastruktur yang sudah ada dinilai belum memadai, seperti halnya Bandara Radin Inten II yang belum berskala internasional, hal ini disebabkan karena keterbatasan anggaran yang tersedia (Resntra, 2009: 25).

2.6 Landasan Teori

Larry Laudan dalam Ardianto (2009: 61) mengusulkan bahwa fungsi utama dari teori adalah untuk memecahkan masalah. Laudan menulis bahwa “pengujian awal dan penting untuk teori adalah apakah ia memberikan jawaban yang bisa diterima atas pertanyaan menarik; dengan kata lain, apakah memberikan solusi yang memuaskan atas masalah-masalah yang penting”. Untuk mencapai tujuan komunikasi diperlukan adanya pemilihan strategi komunikasi yang di dalamnya bentuk pesan menyesuaikan fungsinya.

Charles Berger dalam Littlejohn (2009: 184) menjelaskan tentang perencanaan dalam komunikasi bahwa rencana-rencana dari perilaku komunikasi adalah “representasi kognitif hierarki dari rangkaian tindakan mencapai tujuan”. Artinya bahwa rencana-rencana merupakan gambaran dari setiap langkah-langkah yang diambil untuk memenuhi sebuah tujuan. Berger memperkirakan bahwa semakin banyak hal yang diketahui (khusus dan umum) dan motivasi yang ada maka akan semakin kompleks suatu perencanaan.

Suatu perencanaan pesan dalam strategi komunikasi dapat memungkinkan tercapainya banyak tujuan. Tujuan seperti disusun dalam suatu hierarki dan untuk mencapai tujuan tertentu, terlebih dahulu dicapai tujuan lainnya atau sebaliknya. Teori Perencanaan oleh Berger ini dianggap paling mewakili penelitian ini karena dalam penentuan strategi, perencanaan pesan merupakan komponen yang paling berpengaruh dalam meraih tujuan.

Selain teori perencanaan milik Berger, teori perbedaan individu milik Melvin L. DeFleur dapat menjadi acuan untuk menganalisa pula strategi yang digunakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung. Teori ini menelaah perbedaan-perbedaan diantara individu sebagai sasaran media massa (salah satu media promosi) sehingga menimbulkan efek tertentu.

Menurut teori ini, individu sebagai anggota khalayak sasaran media massa secara selektif, menaruh perhatian kepada pesan yang berkaitan dengan kepentingannya. Konsisten dengan sikap-sikapnya, sesuai dengan kepercayaannya yang didukung oleh nilai-nilainya. Anggapan dasar dari teori ini adalah bahwa manusia amat bervariasi dalam organisasi psikologisnya secara pribadi. Teori ini juga mengandung rangsangan-rangsangan khusus yang menimbulkan interaksi yang berbeda dengan watak-watak perorangan anggota khalayak, karena terdapat perbedaan individual pada setiap pribadi anggota khalayak [9].

2.7 Kerangka Pikir Penelitian

Pada pra riset diketahui bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung menggunakan strategi komunikasi dalam mempromosikan budaya dan pariwisata yang ada di Lampung. Karena semakin banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia khususnya Lampung maka minat wisata masyarakat pun akan tertuju pada negara asing. Maka kebudayaan dan pariwisata Lampung harus dibentuk agar menjadi primadona di negaranya dan menjadi idola bagi negara lain.

Strategi komunikasi dalam kegiatan promosi budaya dan pariwisata terlihat dari bentuk-bentuk kegiatan promosi yang mengkomunikasikan pada masyarakat mengenai kebudayaan dan pariwisata yang ada di Lampung. Dimulai dengan mengangkat sejarah-sejarah terkait Lampung yang diakui dunia hingga mengeksplorasi potensi pariwisata yang ada di seluruh wilayah Lampung. Dengan menyadari keinginan masyarakat yang tak hanya sekedar ingin tahu mengenai sejarah atau asal usul budaya dan pariwisata Lampung, maka kegiatan promosi dikemas dengan kegiatan yang menarik baik dengan mencoba menyuguhkan kepuasan seni hingga mendatangan keuntungan materiil bergantung motivasi masyarakat.

Dengan perencanaan yang disusun dalam sebuah strategi komunikasi maka selanjutnya diteliti dan dianalisis dengan menggunakan teori yang relevan, maka akan diketahui bagaimana strategi komunikasi yang digunakan hingga muncul kebijakan dan program-program promosi yang nantinya akan disimpulkan.
Bagan 1. Kerangka Pikir


















Rounded Rectangle: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung





Rounded Rectangle: Strategi Komunikasi
(Teori Perencanaan & Teori Perbedaan Individu)
-	Strategi Implemantasi
-	Strategi Dukungan
-	Strategi Integrasi






Rounded Rectangle: Kegiatan-kegiatan Promosi Budaya dan Pariwisata Lampung
-	Kebijakan Misi
-	Program Prioritas Misi











 

































[1] 25 Agustus 2011. id.shvoong.com Hukum Politik dan Administrasi negara Diunduh pada 16 Januari 2013
[2] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, Bidang Pemasaran, Pemasaran dan Promosi, Pengertian dan Fungsi Promosi.
[3]   godam64, 2008, Bauran Promosi, http://organisasi.org/definisi-pengertian-promosi-fungsi-tujuan-bauran-promosi-promotional-mix-produk, Komunitas & Perpustakaan Online Indonesia. Diunduh pada 5 November 2012,  16.00

[4] godam64, 2008, Bauran Promosi, http://organisasi.org/definisi-pengertian-promosi-fungsi-tujuan-bauran-promosi-promotional-mix-produk, Komunitas & Perpustakaan Online Indonesia. Diunduh pada 5 November 2012,  16.00
[5]   Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, 2010, Sekilas Tentang Lampung, www.visitlampung.com, Diunduh pada 9 Oktober 2012
[6] Batu tunggal (monolith) yang berasal dari periode Neolitikum (6000/4000) SM – 2000SM, lengkapnya di http://id.m.wikipedia.org/wiki/menhir
[7] UU RI No.10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan
[8] Database Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, Lampung Dalam Angka, 2011
[9] Halimah Sadiyah M.Si, 3 Juni 2009, Teori-Teori Produksi Pesan, Komunitaspr’s blog. http://komunitaspr.wordpress.com/2009/06/03/teori-teori-produksi-pesan/ , Diunduh 31 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar