Rezeki Dalam Peti Mati
Oleh: Kwartini Putri Haloho
Tok..Tok..Tok.. Bunyi ketukan itu berasal dari pisau pahatan yang meliuk-liuk sesuai pola gambaran tangan seorang lelaki paruh baya. Bajunya kini terlihat basah oleh peluh walau di tengah sejuknya udara sore.
Melihat kedatangan tamu yang mencarinya, segera ia menanggalkan kayu-kayu dan peralatan pahatnya dan segera menjabat tangan mahasiswa dengan sangat ramah. Tanpa merasa terganggu dengan niat si tamu, beliau segera mengajak ke ruang tamu untuk percakapan lebih lanjut.
Pak Suroto, pekerjaan yang beliau tekuni adalah seorang pengrajin kayu, membuat meja, kursi, lemari, dan berbagai perabotan berbahan dasar kayu. Namun ketika sebuah gereja di daerah Pahoman meminta dibuatkan sebuah peti mati untuk jemaat yang meninggal dunia, tanpa rasa segan atau merasa pantang, dengan sebuah contoh langsung dibuatnya peti mati sesuai pesanan.
Siapa sangka sejak itu dari mulut ke mulut Pak Suroto lebih dikenal sebagai pembuat peti mati. Bahkan pengrajin kayu di daerah beliau tinggal pun apabila ditanyai membuat peti mati, maka akan menunjuk pria beralamat di Gg.Dahlia itu. Banyak gereja menjadi langganan tetapnya, seperti GKSBS, GBKP, beberapa gereja dan perseorangan dari kaum Nasrani, Rumah Sakit Immanuel Lampung, TNI (untuk upacara senjata meninggalnya golongan perwira dan sebagainya).
Dengan membeli kayu dari supplier, Pak Suroto sejak tahun 1986 merintis pekerjaannya, itu membuatnya dapat menghidupi keluarganya, anak-anaknya pun bersekolah di tempat yang layak, juga membayar upah karyawan yang kadangkala harus siap lembur apabila dipanggil untuk menyelesaikan pesanan yang tiba-tiba karena tidak ada stok tersedia.
Seperti halnya sebuah profesi, menjadi tukang kayu spesialis pembuat peti mati mendatangkan suka dan duka. Karena kematian adalah yang tidak terduga dan bersifat tidak dapat ditunda, maka apabila ada pihak gereja maupun seseorang yang memesan peti mati, beliau secara profesional harus bersedia menyediakan, tak peduli itu adalah jam istirahatnya.
Dengan dibantu delapan orang karyawan, peti mati selalu disediakan tepat waktu. Karena tentu saja pak Surorto tidak dapat berkata “Petinya saya kirim besok siang ya, saya sedang istirahat” untuk peti yang dibutuhkan dini hari. Tak peduli dengan perbedaan agama dan suku, menolong orang yang dilanda kedukaan, menjadi berkah tersendiri.
Walaupun modal berputar lama karena stok peti mati yang disediakan, namun harga patokan untuk sebuah peti mati itu mutlak, dan tidak ada yang pernah menawar, “Saya anggap itu buah dari kesabaran berputarnya modal akibat modal kayu dijadikan stok peti mati. Masa iya ada yang menawar peti mati, tapi bukn berarti saya gila dalam membuat harga. Masalah harga tetap sesuai kok”, ujar Pak Suroto sembari memamerkan hasil pahatannya.
Peti mati yang Pak Sunarto sediakan tersedia dalam tiga urutan. Pertama, peti mati bahan dasar kayu biasa dan polos tanpa ukiran dijual dengan harga Rp 1.250.000,00. Kedua, peti mati bahan dasar kayu biasa dengan sentuhan ukiran dipatok dengan harga Rp 2.100.000,00. Terakhir , peti mati berbahan dasar kayu jati dengan ukiran dan hiasan dibandrol harga Rp 3.500.000,00.
Contoh peti mati jati ukir
Menjadi seorang pengrjain peti mati membuat pak Suroto selalu ingat bahwa kematian akan menjadi khir perjalanan tiap manusia. Tak seorang pun tahu kapan ajal akan menjemput, selama kita dapat membantu sesama dan menjadikan hidup kita berguna. Hendaklah kita selalu mengingat bahwa kita semua pada akhirnya akan menemui kematian, dan tak ada yang dapat mengubah takdir itu. Saat peti sudah tertutup, siapa yang mampu membukanya?
Selasa, 20 Maret 2012
Aku mau mengajakmu membayangkan rasanya tidur pukul setengah tiga subuh karena mata enggan terpejam secara sempurna, dan bangun di angka jarum jam setengah tujuh pagi karena harus kerja kelompok di kampus pukul 8. Sesampai di kampus pukul 8 tepat tapi teman-temanmu tidak datang, sehingga pengerjaan tugas di pending hingga pukul dua belas seusai kuliah yang masuk pukul sepuluh.
Lelah dan lapar menempel erat, alhasil pengerjaan tugas pun dilakukan di salah satu restoran cepat saji. Tapi kau tahu ? Waktu makan dan mengobrol serta online lebih banyak dibanding pengerjaan tugas. Itulah yang terjadi bila kau satu kelompok tugas dengan sahabat-sahabatmu. Hahaha :D
Baiklah, aku tiba di rumah sesegera mungkin karena selain memang merasa lelah, aku tak sabar menunggu makan malam dengan temanku. Sudah sejak beberapa minggu ini aku ingin mie kwetiau. Aku seringkali seperti orang ngidam, menginginkan sesuatu (biasanya makanan) dan itu harus terlaksana, kaau tidak aku akan terus ngidam. Aku segera mandi berharap punya sedikit waktu untuk berbaring sebelum dijemput untuk makan kwetiau. Seharusnya sesudah mandi itu kita segar, tapi menerima sms bahwa acara makan kwetiaunya di pending hingga waktu yang belum pasti, ternyata waktuku untuk beristirahat jauh lebih panjang.
Aku menyalakan laptop, Explorer, Data D, Folder uti uti uti, Folder S1 Communication, Semester 4, Perencanaan Komunikasi, dan file Program Perencanaan Komunikasi terbuka. Kupandangi file itu beberapa detik lalu Ctrl+N kupencet, kubiarkan tugas itu dan jariku bergerak sesuka pikiran dan hatiku. Hahaha :D . Jangan bilang kau mahasiswa tak pernah sepertiku, walau tak sama persis intinya sedang didera perasaan jenuh akan tugas.
Lelah dan lapar menempel erat, alhasil pengerjaan tugas pun dilakukan di salah satu restoran cepat saji. Tapi kau tahu ? Waktu makan dan mengobrol serta online lebih banyak dibanding pengerjaan tugas. Itulah yang terjadi bila kau satu kelompok tugas dengan sahabat-sahabatmu. Hahaha :D
Baiklah, aku tiba di rumah sesegera mungkin karena selain memang merasa lelah, aku tak sabar menunggu makan malam dengan temanku. Sudah sejak beberapa minggu ini aku ingin mie kwetiau. Aku seringkali seperti orang ngidam, menginginkan sesuatu (biasanya makanan) dan itu harus terlaksana, kaau tidak aku akan terus ngidam. Aku segera mandi berharap punya sedikit waktu untuk berbaring sebelum dijemput untuk makan kwetiau. Seharusnya sesudah mandi itu kita segar, tapi menerima sms bahwa acara makan kwetiaunya di pending hingga waktu yang belum pasti, ternyata waktuku untuk beristirahat jauh lebih panjang.
Aku menyalakan laptop, Explorer, Data D, Folder uti uti uti, Folder S1 Communication, Semester 4, Perencanaan Komunikasi, dan file Program Perencanaan Komunikasi terbuka. Kupandangi file itu beberapa detik lalu Ctrl+N kupencet, kubiarkan tugas itu dan jariku bergerak sesuka pikiran dan hatiku. Hahaha :D . Jangan bilang kau mahasiswa tak pernah sepertiku, walau tak sama persis intinya sedang didera perasaan jenuh akan tugas.
Langganan:
Postingan (Atom)