Kamis, 02 Desember 2010

satu cerita

Hari ini aku berangkat ke terminal Rajabasa sekitar pukul 9 pagi. Dengan menenteng satu tas yang tidak terlalu berat aku memasuki bis yang sudah siap meluncur ke Pelabuhan Bakauheni. Aku berencana ke Jakarta untuk menghadiri wisuda kakakku, aku beranikan diri untuk ngeteng karena tidak sempat membeli tiket bis terusan.

Pukul setengah sepuluh bis berangkat, perlahan meninggalkan kota Bandar Lampung. Namun, perjalanan Bandar Lampung-Pelabuhan Bakauheni yang biasanya ditempuh kurang lebih dua jam, kali ini harus ditempuh hampir enam jam. Itu karena ada kerusakan jalan yang terjadi di Kalianda, jalanan yang licin dan ada longsor pula mengakibatkan bis ataupun kendaraan besar lainnya seperti truk tidak diperbolehkan melewati rute yang biasanya. Para supir angkutan besar itu harus memutar jalan lewat Jepara.

Ibu-ibu yang duduk di depanku terlihat mengomel pada anaknya yang duduk di seberang kursiku dengan logat Lampung yang khas, ada pula pria yang kurang lebih berumur 30 tahun sibuk berdiri, mengangkat kacamata hitam besarnya, seraya melihat ke arah depan seolah ingin mengetahui apa yang terjadi di depan sana yang mengakibatkan bis kami tidak berjalan daritadi. Mungkin ia merasa keren dengan gaya dan tingkahnya, tapi yang jelas aku menahan tawa sejak pertama kali ia mengenakan kacamata hitamnya yang norak itu.haha

Sudah hampir lima jam aku duduk di bis, itu artinya sudah hampir lima jam juga aku menahan hasrat buang air kecil, setelah bertanya pada mas-mas sebelahku, beliau menyarankan untuk berhenti dan meminjam kamar mandi di salah satu rumah warga, entah kenapa ia seperti mampu membaca maksudku. Tak ingin terlihat konyol karena ngompol, aku segera menghampiri pak supir.

“Pak, macetnya masih lama gak ?” tanyaku sopan
“Gak tau mbak” jawab pak supir
“Saya mau ke kamar mandi sebentar ya, bisa kan?” Aku meninta ijin seraya meyakinkan pak supir untuk menungguku
“Yaudah” jawab pak supir tanpa menoleh ke arahku

Dengan bantuan mas-mas yang duduk di bangku depan, pintu bis terbuka. Aku segera berlari menyeberang dan berlari lagi memasuki salah satu rumah warga.

“Permisi pak, saya boleh menumpang ke kamar mandi gak?” pintaku pada seorang bapak yang sedang bersantai di teras rumahnya ditemani sang istri
“Silahkan nak” sahut bapak yang sudah terlihat ubannya itu dengan ramah

Aku segera masuk dan mengikuti petunjuk bapak itu ke arah kamar mandi. Namun ketika aku berjalan memasuki kamar mandi, aku seolah mendengar hiruk pikuk suara dari jalanan, aku tak perduli, yang aku pikirkan adalah aku ingin segera menyalurkan hasrat yang telah tertunda beberapa jam.

Selesai menuntaskan tugas, dengan terburu-buru aku menyambar tas dan berterima kasih pada pak tua yang sudah baik hati meminjamkan kamar mandinya padaku si orang asing. Namun aku tertegun mendengar ucapan beliau yang dilanjutkan pemandangan yang benar-benar aku sesali
“Tapi bisnya udah pergi lho nak”, dan benar aku melihat bis-bis dan truk-truk sibuk memacu gas mengubah pemandangan macet yang beberapa saat lalu aku tinggalkan

Sedikit kesal aku berjalan ke depan, berharap bis yang aku tumpangi tadi masih menungguku tak jauh di depan sana. Namun aku tak mampu melihat buntut bis itu sejauh pandangan kacamataku.
“Kalau ditinggal bis, naik ojeg aja buat ngejarnya” tiba-tiba seorang pria di pinggir aku berjalan memberi saran padahal aku tak meminta. Tadinya aku berniat akan menaiki bis lain dengan tujuan Pelabuhan Bakauheni karena toh tak ada barangku yang tertinggal di bis, namun aku merasa ide pria itu tak kalah baik dibanding ideku.

Aku langsung menyetop sebuah motor yang melintas, tampak seorang pria sekitar umur empat puluh yang sedang membawa barang dengan motornya, namun jok belakangnya kosong dan aku memutuskan meminta tolong padanya.
“Pak, saya ditinggal bis. Boleh nebeng samapai bisnya ketemu?” Dengan tampang sedikit memohon, beliau langsung mengangguk dan membiarkan jok belakangnya aku tumpangi.

Tidak sebentar menemukan bis yang tadi aku naiki, aku memang tak hafal nomor polisinya, tapi aku ingat warna dan nama bisnya. Bapak itu sempat melontarkan kata-kata yang artinya dia kesal dengan supir bis yang tak punya hati, tak begitu kuperhatikan karena aku fokus ke jalan sambil berharap menemukan bis biru itu. Namun belum sempat beliau melanjutkan cerita aku langsung berteriak “Itu bisnya, kita ambil kiri pak”. Beliau menyingkir sambil berusaha mengimbangi laju bis, dan bis pun menyisi untuk berhenti dan aku pun langsung turun. Aku tak punya banyak waktu untuk membuka dompet yang aku selipkan di antara lipatan baju di tasku, dan tak sempat juga menyampaikan pidato terima kasihku atas bantuan bapak itu, namun dengan gerakan yang singkat aku mengeluarkan uang dari kantong belakang jeans ku, selembar uang lima ribu itu kuserahkan pada bapak itu sambil mengucapkan terima kasih dengan senyuman tulus dan dibalas oleh beliau.

Aku menaiki pintu bis yang dibuka lebar oleh kernet, seorang ibu yang sudah cukup umur langsung memegang tanganku dan berkata “Untung pinter naek ojeg, jadi ketemu” dan ada ucapan-ucapan di bagian belakang sayup kudengar bahwa mereka bersyukur aku berhasil ditemukan. Aku kaget, nampak mata para penumpang langsung tertuju padaku saat aku kembali menampakkan batang hidung di bis itu, bahkan ada yang berdiri dari kursinya, dan tahukah? Pria berkaca mata hitam besar tadi bahkan keluar dari kursinya, aku sepertinya menjadi topik perbincangan beberapa saat lalu oleh para penumpang di bis. Banyak orang senang menjadi pusat perhatian, namun aku rasa tak satu orangpun ingin keadannya seperti yang aku alami.

Aku kembali ke kursiku, dan sempat ditanyai oleh mas-mas sebelahku. Sedikit menenangkan setelah peristiwa singkat tadi dan menyingkirkan rasa kesal terhadap pak supir, aku bersyukur dalam hati masih diberi keberanian dan dipertemukan oleh dua warga yang masih memiliki hati untuk membantu sesama. Semoga masih dan akan terus lebih banyak orang lagi yang seperti itu. Tuhan memberkati mereka.
(untuk bapak yang meminjamkan kamar mandi, pria yang memberi ide naik ojek, dan bapak pengendara motor)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar