Minggu, 25 April 2010

senyum mama


Kubuka kembali dompetku, tak bosan rasanya.
Bukan karena jumlah uang yang baru saja kuambil dari ATM
Atau tumpukan kartu bertuliskan KTP, KTM, SIM, ATM, TimezoneCard, MatahariCard, atau Kartu Pelajar SMA yang masih kusimpan.

Tapi ada satu foto yang secara sengaja kusimpan di dompetku.
Kuperhatikan senyumnya, lagi dan lagi
Elok nian. Bagai melihat malaikat [padahal melihat malaikat pun belum pernah :p]
Tapi sinar yang terpancar dari senyumnya sungguh membuatku terenyuh,
Merasa sangat beruntung mempunyai dia dalam hidupku.

Mama, wanita yang sudah mulai terlihat keriput-keriput, yang jumlahnya menafsirkan seberapa banyak perjuangan yang telah ia lewati, ia mulai jauh dari sebelum aku ada di dunia ini.
Mama-mama yang lain akan menyebut tanda penuaan, boleh saja, namun buat mama semua itu terhapus dengan senyum yang menghiasi wajahnya yang memang cantik bawaan lahir, dan percayalah itu menurun pada kami semua anaknya, terutama aku 

Melihat senyum mama di foto sama seperti mencuri semangat kala stok semangat habis dan toko-toko terdekat pun tidak menjualnya.
Aku yakin, kalau pada waktu itu mama sudah lahir, beliau akan menandingi senyum dari Monalisa, mahakarya DaVinci yang mahsyur itu. Hehe

Tetaplah tersenyum mama.
Dan, ajari aku untuk mempunyai senyum sepertimu 

Esspecially for Sontiara Malau.
Our lovely mom.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar